Kantil di Makam Sewu
Karya : La Nina
Karya : La Nina
Suatu sore yang cukup cerah, aku membuatkan teh nasgithel untuk Bapak.
Di teras rumah mbah kami bersantai sambil ngobrol. Tahu-tahu Mas Aji
ikutan begabung dengan aku dan bapak. Bapak suka menceritakan mitos-mitos zaman
dulu sambil menikmati teh tadi. Aku terkadang memercayainya tapi lebih banyak
tidaknya. Beliau pernah menceritakan sebuah mitos disebuah masyarakat kurang
lebihnya seperti ini.
Setiap tanggal satu pada bulan Suro
dalam bulan Jawa banyak orang ziarah ke sebuah makam yang bernama Makam Sewu.
Ada sebuah mitos beredar bahwa jika ada orang menemukan bunga kantil di dalam
makam tersebut maka keinginan dari orang tersebut konon terkabul. Namun tak ada
orang yang pernah menemukan bunga tersebut. Padahal orang banyak kantil saat
berziarah ke makam tersebut.
Aku
merasa tak percaya akan mitos tersebut. Zaman ini sudah modern namun masih ada
mitos seperti itu. Tapi aku baru ingat, kakek nenek masih ada yang
memercayainya. "Bapak nembe kelingan nek mbah uti kae seneng meng Makam
Sewu. Ra ngerti rono opo ora taun iki. Rame terus nek sasi Suro" kata
Bapak ke kami. "Ji, mengko nek mbah uti pengen meng Makam Sewu tok anterke
wae. Terus kowe golekono kantil kui. Mbok sopo ngerti kowe nemu" tambahnya
ke Mas Aji.
Kakak laki-lakiku yang berlatar belakang kesehatan yang menyukai hal-hal yang
realistis awalnya tak mau. "Mboten lah Pak. Kula mboten percoyo ngoten
niku" katanya dalam bahasa Jawa krama halus itu. "Ra papa. Nggo
mbuktikke wae. Nek ora idep-idep kowe ngeterke mbah uti wae wis" kata
Bapak. "Menawi namung ngeteraken mawon kula purun Pak"
balasnya.
Mbah uti keluar kamar sudah siap-siap dengan kebaya sederhana dan biasa
menghampiri Mas Aji. Aku yang didekat Mas Aji menghampiri mbah uti untuk
membantunya berjalan. Setelah itu mbah uti berkata, "Aku terke meng makam
Sewu. Aku tak nyekar rono". "Nggih mangke terke Aji" sahut
Bapak. "Ya wis kana terke mbah uti" lanjutnya. Mas Aji mengangguk
tanda mengiyakan sambil berkata, "Nggih Pak".
Setelah Mas Aji siap-siap, dia mengantar mbah uti kesana. Kemudian aku dan
Bapak diceritakan Mas Aji kurang lebih seperti ini.
Disana ramai sekali orang yang mau nyekar. Dan kulihat orang-orang membawa
kantil setidaknya minimal satu. Tapi memang benar aku tidak menemukan kantil
tersebut di nisan. Diliat-liat dimanapun hampir tak ada, ternyata memang benar
ada kantil disana. Itu saja hanya satu dan terletak di nisan yang letaknya
paling pojok. Aku hanya melihatnya, tapi tak diambil. Lalu ada orang yang ingin
mencari kantil juga. Mas Aji memberi tahu orang tersebut bahwa disana ada.
Tetapi orang tersebut tidak melihatnya. Padahal Mas Aji bisa melihatnya.
Yogyakarta, 15 September 2019
Hhhhhhmmmmm.. otewe nyusul deh.. my best inspiration deh. Haha
BalasHapus