DISCLAIMER

DISCLAIMER! DILARANG COPY PASTE ! Seluruh isi karya, termasuk cerita, kutipan, dan puisi dalam platform ini adalah hasil karya fiksi dan imajinasi penulis. Segala kesamaan nama tokoh, tempat, situasi, maupun peristiwa dengan dunia nyata hanyalah kebetulan semata. Karya ini dibuat untuk tujuan ekspresi kreatif, hiburan, dan refleksi, bukan untuk menyerang, menyindir, atau merugikan pihak mana pun. Penafsiran atas isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.

Minggu, 15 September 2019

Kantil di Makam Sewu

Kantil di Makam Sewu
Karya : La Nina

       Suatu sore yang cukup cerah, aku membuatkan teh nasgithel untuk Bapak. Di teras rumah mbah kami bersantai sambil ngobrol. Tahu-tahu Mas Aji ikutan begabung dengan aku dan bapak. Bapak suka menceritakan mitos-mitos zaman dulu sambil menikmati teh tadi. Aku terkadang memercayainya tapi lebih banyak tidaknya. Beliau pernah menceritakan sebuah mitos disebuah masyarakat kurang lebihnya seperti ini.
       Setiap tanggal satu pada bulan Suro dalam bulan Jawa banyak orang ziarah ke sebuah makam yang bernama Makam Sewu. Ada sebuah mitos beredar bahwa jika ada orang menemukan bunga kantil di dalam makam tersebut maka keinginan dari orang tersebut konon terkabul. Namun tak ada orang yang pernah menemukan bunga tersebut. Padahal orang banyak kantil saat berziarah ke makam tersebut.

       Aku merasa tak percaya akan mitos tersebut. Zaman ini sudah modern namun masih ada mitos seperti itu. Tapi aku baru ingat, kakek nenek masih ada yang memercayainya. "Bapak nembe kelingan nek mbah uti kae seneng meng Makam Sewu. Ra ngerti rono opo ora taun iki. Rame terus nek sasi Suro" kata Bapak ke kami. "Ji, mengko nek mbah uti pengen meng Makam Sewu tok anterke wae. Terus kowe golekono kantil kui. Mbok sopo ngerti kowe nemu" tambahnya ke Mas Aji.
       Kakak laki-lakiku yang berlatar belakang kesehatan yang menyukai hal-hal yang realistis awalnya tak mau. "Mboten lah Pak. Kula mboten percoyo ngoten niku" katanya dalam bahasa Jawa krama halus itu. "Ra papa. Nggo mbuktikke wae. Nek ora idep-idep kowe ngeterke mbah uti wae wis" kata Bapak. "Menawi namung ngeteraken mawon kula purun Pak" balasnya. 
       Mbah uti keluar kamar sudah siap-siap dengan kebaya sederhana dan biasa menghampiri Mas Aji. Aku yang didekat Mas Aji menghampiri mbah uti untuk membantunya berjalan. Setelah itu mbah uti berkata, "Aku terke meng makam Sewu. Aku tak nyekar rono". "Nggih mangke terke Aji" sahut Bapak. "Ya wis kana terke mbah uti" lanjutnya. Mas Aji mengangguk tanda mengiyakan sambil berkata, "Nggih Pak".
       Setelah Mas Aji siap-siap, dia mengantar mbah uti kesana. Kemudian aku dan Bapak diceritakan Mas Aji kurang lebih seperti ini.
        Disana ramai sekali orang yang mau nyekar. Dan kulihat orang-orang membawa kantil setidaknya minimal satu. Tapi memang benar aku tidak menemukan kantil tersebut di nisan. Diliat-liat dimanapun hampir tak ada, ternyata memang benar ada kantil disana. Itu saja hanya satu dan terletak di nisan yang letaknya paling pojok. Aku hanya melihatnya, tapi tak diambil. Lalu ada orang yang ingin mencari kantil juga. Mas Aji memberi tahu orang tersebut bahwa disana ada. Tetapi orang tersebut tidak melihatnya. Padahal Mas Aji bisa melihatnya.

Yogyakarta, 15 September 2019



1 komentar:

  1. Hhhhhhmmmmm.. otewe nyusul deh.. my best inspiration deh. Haha

    BalasHapus

Dandelion

 In a barren soil, you grew quietly Dancing with the breeze, challenge with the night You're not roses, nor jasmines But your vitality n...